Monday, March 26, 2012

When It's Worth the Wait (The Hunger Games movie review)



Finaaaaaally, i watched one of the most anticipated movie of the year : The Hunger Games with fellow Tributes and @IndoHungerGames community yesterday.
Yap, ini kali ketiga gue ikut acara yang dibesut kakak-kakak IHG. Yang pertama #VoteforMockingjay di akhir 2011 lalu, yang kedua #MockingjayParty di awal 2012 dan akhirnya #nonbarIHG alias Block Screening kemarin.
All that i could say is i'm so happy to see the number of Tributes is going really faster by days. Dan seperti dugaan gue, angka Tributes nampaknya melonjak setelah filmnya tayang di cinema-cinema.

Kayak yang pernah gue cerita disini, gue baca HG pertama tahun 2010 dan gue kayaknya dulu ngerasa spazzing sendiri soal Hunger Games, kalo sekarang waaaaah timeline twitter gue kayaknya lagi bicarain The Hunger Games sebagai hot topic.

Anyway, acara Block Screeningnya seru banget. Dimulai dengan registrasi ulang jam delapan pagi lalu ga lama kita semua masuk ke theater. Rasa ngantuk semua peserta dengan piawai diusir jauh-jauh sama para MC dengan cara ngadain kuis. Dari trivia, tebak karakter sampe real or not real (buat yang udah baca Mockingjay pasti ngerti games ini) dengan hadiah yang menggiurkan macam poster HG character, buku Mockingjay sampai official merchandise NECA yang bisa bikin Tributes di theater ikut bunuh-bunuhan kayak di arena xD

Setelah ice breaking dan epic moment dimana seluruh Tributes satu studio melakukan three finger salute -salam 3 jari- sebagai pembuka resmi acara menonton (serius ini bikin merinding banget) akhirnya mulailah lampu diredupkan, semua penonton duduk manis sambil menancapkan pandangan lekat-lekat ke layar lebar layaknya para penduduk Districts dan Capitol yang diwajibkan mengikuti perhelatan annual Hunger Games tanpa kecuali.

Gue sekarang percaya sama ucapan Gary Ross waktu beliau bilang bahwa The Hunger Games adalah 'a faithful adaptation from the book'. Karena setelah gue nonton, gue yakin orang awam yang belum baca bukunya sekalipun pasti bisa ngerti jalan ceritanya.

Kayak misalnya film ini dibuka dengan penjelasan tentang sedikit riwayat Panem dan The Treaty of Treason (Perjanjian Pengkhianat), dimana dibuku Suzanne Collins bisa deskripsiin itu panjang lebar dan disini dengan cerdiknya dijadiin sebagai narasi pembuka.
Sebelum lanjut, berhubung gue udah pernah bahas review soal Hunger Games -dari bukunya-, gue ga akan terlalu panjang cerita soal alurnya. Tapi sebagai Tributes yang berawal dari pembaca, gue mau sharing (dan compare beberapa) poin-poin sakral buku dan filmnya. Here they go :

1. District 12

Gue harus bilang bahwa Gary Ross berhasil menampilkan kesan kelabu yang di deskripsikan Suzanne Collins di buku dalam bentuk visual. Gue gatau gimana caranya mereka bisa bikin tempat se'District 12' itu. Dari mulai para coal minernya, warna-warna rumah dan pakaian yang nampak dull, boundarynya, meadow tempat Katniss biasa ketemu Gale. Walau ga sama-sama banget sama bayangan gue, gue harus mengakui bahwa semua terasa pas. Bahkan gue bisa nangkep kesengsaraan di Seam yang coba digambarkan lewat seorang kakek yang sibuk menyesap tulang entah-binatang-apa untuk makan.

2. Mockingjay Pin

Berhubung ga ada Madge Undersee (hikssss she's one of my favorite supporting chara), pin ini ceritanya diberikan oleh seorang penjual -kayaknya Greasy Sae- di Hob (pasar gelap yang didatengin Katniss di scene-scene awal) ke Katniss, yang lalu Katniss berikan pada Prim sebelum pemungutan, namun akhirnya dibalikkin lagi ke Katniss setelah dia volunteer untuk menjadi Tribute. Gue sedikit menyayangkan poin ini sebenernya karena dibuku Madge, sebelumnya diceritakan mendapat pin ini dari Maysilee Donner, bibinya yang juga ikut Hunger Games ke 50 (a.k.a Quarter Quell kedua bareng Haymitch, mentor Katniss sama Peeta). Mengingat Mockingjay bakal jadi simbol pemberontakan nantinya, i think that was interesting history to think about (and a fanfiction potential), tho :(

3. The Reaping

Alias pemungutan suara yang diadakan di aula gedung pengadilan. Hmm .. Gue suka sama aura keputusasaan disana, juga tambahan semacam 'deteksi darah' yang ga ada di bukunya. Sayang ga ada Mayor Undersee yang speech, melainkan langsung footage nya Presiden Snow. Dan ga ada Haymitch yang muntah lalu jatuh di kubangan muntahannya sendiri. Tapi yang paling penting hal krusialnya ga ketinggalan sih. Yaitu detik-detik nama Prim dipanggil, lalu Katniss volunteer dan sedikit kilasan burned bread scene (yap waktu Katniss hampir mati kelaparan, lalu Peeta melemparkan roti yang ujungnya gosong ke deket Katniss) waktu Peeta dipanggil sebagai Tribute laki-lakinya. Juga tentu saja ini pertama kali kita melihat D12 escort, the zooper chic yet stylish Effie Trinket bersama slogan andalannya "May the Odds be ever in your favor !"


4. The Capitol

Sementara kereta yang membawa Katniss dan Peeta tidak sedetil bukunya dan somehow kurang gigit buat gue, gue harus angkat topi buat visualisasi Capitol yang sangat amat keren dan techy banget. Infrastrukturnya, flat buat Tributesnya, Training centrenya plus citizensnya. Geez, akhirnya apa yang selama ini gue liat di Capitolcouture web bisa gue liat di filmnya. Orang-orang capitol yang make upnya semakin norak berarti semakin keren, walau sepenglihatan gue -sayangnya- ga ada yang terlalu ekstrim seperti nambahin kumis kucing, tato seluruh badan seperti di buku. Tapi gue super salut sama tim make-up yang bisa dandanin orang sebanyak dan sedetil itu. Gue suka gimana berbagai ruang dan manusia Capitol dihiasi sama warna wana yang -too- eyecatching kayak shocking pink, bright green tapi semua terlihat artistik dan ga out of place. Terlalu. Ke. Ren.
D12 tributes flat (Dining room)
Capitol Citizens looks

5. The Capitol Foods

Isn't this awesome ?

Well, ga terlalu diliatin di film tapi keren banget kan ? Sooo Capitol, you see. Namun .. Gosh, where is that lamb stew with dried plum ? makanan kesukaan Katniss itu sama sekali ga disinggung di filmnya :((

6. The Chariot
Gue jatuh cinta setengah mati sama lokasi chariotnya. Lebih megah dan incredible dari bayangan gue ! Chariot adalah acara pembukaan dimana para peserta berparade dengan kostum yang menggambarkan masing-masing Districtnya (yang mereka naik kereta kuda itu). Gaun terbakarnya Katniss ga seberapa wah (lebih keren gaun yang pas interview Caesar :p), tapi penggambaran Chariot keseluruhan yang sangat mendetil membuat gue melupakan semua kekurangan kecilnya.

7. The Game
Rangkaian scene yang paling bikin orang nahan napas dari pembuka sampe penutupannya. Arenanya -kecuali cornucopia- ga beda jauh dari bayangan gue dan runtutan kematian Tributesnya juga sama persis. Dari bloodbath, Peeta masuk kawanan karir, serangan trackerjacker, Katniss bikin alliance sama Rue, kematian Rue (yang bikin sesengukan) perubahan peraturan, Cave Scene (yang bikin gue sakit perut karena tiap ada sweet moment Peeta - Katniss semua Tributes sestudio pasti pada langsung beroh-ah) sampe final battle sama Cato dan Mutt (sayang Muttnya mirip berang-berang obesitas dan kurang mengerikan, ga diliatin mata para Tributes yang udah di tewas yang dipasang ke mereka). Btw, camouflage nya Peeta keren banget ><
this breathtakingly sweet cave scene <3

8. The Gamemakers

Seneca Crane, the head gamemakers lebih banyak dapet peran daripada di buku (ga heran sih secara di buku kita cuma dapet point of view Katniss) tapi yang mau gue bilang adalah bahwa ruang gamemakernya totally amazing. Cara mereka mengontrol arena diliatin disini dengan layar dan panel sentuh plus pen ajaibnya yang super canggih, gimana mereka munculin pohon, nyiptain mutt yang bener-bener bikin leher pegel karena geleng geleng takjub.

9. The Uprising
Pemberontakan di D11 terjadi setelah Katniss menaruh bunga di sekitar jenasah Rue. Entah kenapa gue ikut kebawa emosi waktu ngeliat penduduk D11 melawan peacekeeper, mengobrak-abrik segala macam hal. Rasanya pengen ikutan LOL. Anyway, menurut gue uprising di D11 memang cukup krusial disini, karena pemberontakan pertama itu yang jadi kunci untuk mengarah ke Catching Fire dan Mockingjay. Karena uprising yang bakal jadi tema besar di sekuelnya. As Katniss said to Snow on Mockingjay "If we burn, you burn with us !"

10. The Characters

These charas were nowhere to be seen :
- Katniss's Father (the pic isn't enough T_T)
- Madge & Mayor Undersee
- Darius, D12 head peacekeeper
- Lady, Prim's dearest goat
- Lavinia, avox girl that Katniss once met in the D12 forest before she was caught by the Capitol (btw keberadaan dan definisi avox juga ga terlalu dijelasin)

Juga ada beberapa karakter yang muncul tapi ga terlalu digali di film kayak Buttercup (kucingnya Prim), Prep team nya Katniss (Venia, Octavia, Flavius) juga Portia.

Kalo yang lain, terutama main casts, jujur aja gue merasa udah dapet banget. Jennifer Lawrence (no other better than her for portraying the stubborn unforgivable Katniss), Josh Hutcherson (he's born to be Peeta, see), Liam Hemsworth (poor Gale with that heartbreaking jealous face when he saw Katniss kissed Peeta on the tv), Alexander Ludwig (Ok don't yell at my ear please, girls xP) udah cocok banget sama peran mereka masing masing.
Yang masih gue ganjel mungkin Presiden Snow sih. Gue ga nyangka Snow bakal terlihat sebijaksana dan se-santaklaus itu. Dari dulu gue bayangin Presiden Snow kayak Goblin. Pendek dengan muka licik penuh operasi gagal dan napas berbau darah yang membuat bergidik. Yah well mungkin ada alasan lain kenapa Donald Sutherland jadi Snow. I won't know.

Anyway, these are some subjective best moments ;D :
- Cave scene, waktu sweet moment Peeta sama Katniss, semua gamemakers di Capitol ikut melongo sementara Gale menampilkan wajah pengen diemut mutt di D12 (sumpah kedua hal ini sesungguhnya LOL banget)

- Katniss meriksa suhu tubuh Peeta lalu bilang "Peeta, you're hot" (yang membuat fangirls Peeta di deket bangku gue menjerit-jerit padahal ..... Ngerti kan maksudnya ? xP)
- Semua sweet moment Peeta sama Katniss ! Mulai dari Peeta minta maaf karena kejadian roti gosong dulu, Katniss ngobatin Peeta lalu gantian Peeta ngusap wajah Katniss, Katniss tidur di dada Peeta AAAAAAA *faint*
- Rue's death :'(

Overall, menurut gue memang susah -sekali- mengemas satu buku Hunger Games ke dalam sebuah film yang hanya berdurasi dua jam lebih sedikit. Dengan segala pemangkasan karakter dan adegan (kayak misalnya ga ada adegan obat tidur / berri gula, bahkan ga ditunjukkin kaki Peeta lumpuh dan salah satu telinga Katniss sempat rusak), entah kenapa gue tetep merasa bahwa film ini adalah sebuah film yang utuh, mendetil (Oh Tuhan betapa geniusnya Gary Ross bisa membuat gue merasakan pengangnya Katniss karena applaus waktu dia mau di interview Caesar Flickerman) dan mengesankan.
Film ini dikabarkan sudah tembus rekor Box Office. Duh how can i not proud to be Tribute ? Awesome books, stunning movie. Hahaha.

So, is The Hunger Games movie worth the wait ? Yes. Even with some lacks here and there, i dare to say .. Yes. It's really worth the wait.

Last word. May the odds be ever in your favor, Tributes ! ;D

ps : all pics cr to the rightful owner

Thursday, March 22, 2012

SHINee's Back !

5 gifted boys who led me into k-pop and k-world stuffs ...


ARE BACK !

With their 4th mini album Sherlock, including this following tracks :
  • Sherlock (Clue + Note)
  • Clue
  • Note
  • Alarm Clock
  • The Reason
  • Stranger
  • Honesty
they conquered the world ...

On March 19th, after the album was released on Korean music portals and on iTunes, their title song “Sherlock” has achieved a real-time all-kill and has been maintaining the 1st spot on various music charts. What is more surprising is that SHINee has been gaining a lot of attention in global music charts as well, such as in the United States, Canada, UK, and France where K-Pop has been growing rapidly.

SHINee was able to achieve 8th on the iTunes Top Albums where Big Bang was at 4th recently. They were also able to reach 1st on the Japanese iTunes chart, 6th on the Swedish, 10th on the Mexican, and even 9th on the Canadian iTunes chart.

SHINee’s new mini album has gained a lot of interest due to the high quality of all seven songs. Also, the title song “Sherlock” is a hybrid remix between the songs “Clue” and “Note“, which seems to be a unique and interesting experimentation that the idol group has done for the first time in K-Pop.

SM Entertainment stated that SHINee’s comeback is ‘world-class’ and that, “they are proud to present the best quality in music, style, and performance“.

cr : allkpop

check out their newest MV which just out today !

SHERLOCK - SHINEE

SHINee 샤이니_Sherlock•셜록 (Clue +

ps : My favorite track so far is Alarm Clock xD

Tuesday, March 13, 2012

Into The New Addiction

Blame it on Thanks to ka Adrindia Ryandizsa (a.k.a kakak Avox di komunitas IndoHungerGames) yang menjejalkan rekomendasi buku-buku Sci-fi/Dystopia YA ke gue, gue jadi totally addicted sama genre ini sekarang.
Hahahaha.
Honestly, awalnya gue clueless banget sama genre ini, terutama Dystopia YA (kalo sci-fi gue lumayan sering denger dan ngerti dikit). Sampai akhirnya gue nanya ke Papa Wiki dan nemu ini ....

A dystopia is the idea of a society in a repressive and controlled state, often under the guise of being utopian. Dystopian societies feature different kinds of repressive social control systems, various forms of active and passive coercion. Ideas and works about dystopian societies often explore the concept of humans abusing technology and humans individually and collectively coping, or not being able to properly cope with technology that has progressed far more rapidly than humanity's spiritual evolution. Dystopian societies are often imagined as police states, with unlimited power over the citizens.


Dan..

Dystopia is defined as a society characterized by poverty, squalor, or oppression. Most authors of dystopian fiction explore at least one reason why things are that way.
Dystopias usually extrapolate elements of contemporary society and are read by many as political warnings. Many purported utopias reveal a dystopian character by suppressing justice, freedom and happiness.


Atau kalau gue tarik garis besarnya Dystopia adalah sebuah keadaan/visi/dunia futuristik (di masa depan) dimana biasanya seluruh aspek kehidupan masyarakat di dalamnya dimonopoli secara penuh oleh pemerintah/satu pihak manapun yang berkuasa dan cenderung otoriter. Biasanya Dystopia -dalam literatur- digunakan untuk sarana kritik dunia nyata yang kita tempati sekarang. Contohnya : Hunger Games yang menyentil soal tayangan TV yang belakangan menjadi semacam tren/kewajiban/dewa di US, juga mengenai segi politik (seperti yang pernah gue bahas disini) lalu seri Uglies yang menyinggung perihal penampilan fisik yang sering dianggap diatas segalanya, dan sedikit mengkritik tentang pembabatan hutan/kawasan hijau untuk industri dan pemukiman.

Sounds boring ?

Oh, man percayalah. Dystopia/Sci-Fi YA novel itu bukan buku panduan menyelamatkan bumi yada yada yada. Dengan kata-kata memikat dan alur yang ga tertebak, pasti lo pasti dibuat sadar secara perlahan dan bakal nyadar dunia yang kita tempati sekarang jauh jauuuuh lebih baik daripada dunia mereka. Dystopia mencoba mereka-reka dunia masa depan yang akan ditempati anak cucu kita, kalau kita ga mau merubah dunia kita sekarang ke arah yang lebih baik.
Yah there's a tale behind a story.

Gue baru aja selesai baca trilogi Uglies - Pretties - Specials by Scott Westerfeld (another recommendation from ka Adrin, and now i totally recommend them for you !) dan itu keren banget.



Berhubung gue lagi males bikin summary (hahaha forgimme) gue bakal copy sinopsisnya dari goodreads

Tally Youngblood akan berusia enam belas tahun, dan dia tak sabar menunggunya. Di dunia Tally, umur enam belas tahun berarti perubahan dari buruk rupa menjadi rupawan. Dengan menjadi rupawan, dia akan memasuki dunia berteknologi tinggi yang menawarkan kehidupan bersenang-senang. Tinggal beberapa minggu lagi, Tally akan memasuki dunia tersebut.

Tetapi dia berjumpa dengan Shay, sesama buruk rupa, yang tidak yakin mau berubah menjadi rupawan. Saat Shay melarikan diri, Tally mempelajari suatu fakta dari dunia rupawan—yang mengguncangkan dan ternyata tak secantik wujudnya.

Tally berada dalam situasi terburuk yang tak pernah dibayangkannya: mengkhianati temannya sendiri atau tak akan berubah menjadi rupawan sama sekali. Pilihan Tally akan mengubah dunianya untuk selamanya.

Nah lo tahu yang dimaksud dengan buruk rupa di dunia Tally ? Buruk rupa = kita. Kita dianggap sebagai manusia Pra-Rusty yang belum mengenal operasi untuk jadi rupawan. (yeah jadi rupawan disini bukan tentang sihir, tapi tentang teknologi -yang mengerikan-)
Oh gue yakin semua orang pengen jadi cantik atau ganteng, ya kan ? Mata besar, hidung bangir, kulit sehalus sutra. Tapi di dunia Tally ternyata menjadi rupawan ga seindah keliatannya. Mereka yang -di operasi- jadi rupawan punya lesi (semacam kanker) di otak yang membuat mereka ber'otak kosong' bahkan kaum Spesial (rupawan yang berkuasa dan berpenampilan cantik namun bengis) punya lesi yang lebih parah. Lesi itu membuat mereka menganggap rendah/jijik pada orang-orang buruk rupa (aaaay doesn't it sound familiar?)

Yang gue sempet ketawa disini adalah ada scene dimana Tally ngeliat majalah jaman kita (gue ulangi alias Pra-Rusty) dan memandangi foto 'manusia tinggi dengan tulang bertonjolan dan tubuh terlalu kurus dalam pakaian renang' lalu bertanya dengan ngeri 'Siapa ini ?' Akhirnya dijawab bahwa mereka disebut sebagai model, pekerjaan untuk mereka yang dulu dianggap kaum rupawan.

Nah itulah contoh salah dua bentuk kritik yang tersurat dalam Uglies.

Intinya, novel genre ini memungkinkan penulisnya mengeluarkan pendapat secara keras namun berkelas, lantang tapi meresap perlahan. Membuat kita berpikir banyak, menduga-duga di tiap akhir bab/buku, ikut tegang saat hero/heroine nya berhadapan dengan si pemegang tampuk kekuasaan, dan nganga lebar karena kadang akhirnya ga sesuai bayangan. (Jangan lupa juga tambahan partikel benda-benda canggih yang super keren e.g : hoverboard/hovercar/hovercraft, dinding yang bisa jadi mata-mata, alat pembuat makanan sendiri etc)
Banyak hal bisa dipelajarin dengan cara yang mengasyikkan dan ga membosankan di genre ini. Dan gue menyarankan banget buat para kutu-kutu buku untuk mencoba, kalau belum pernah coba.
Sekarang sih, gue lagi baca buku pertama trilogi Matched nya Ally Condie, (lebih tepatnya e-book karena gue ga nemuin tuh buku dimana-mana) yeah another Dystopia novel yang sinopsisnya sangat-sangat membuat gregetan.
Terus juga lagi penasaran sama seri sci-fi Last Survivors (#1 Life as We Knew It, #2 The Dead and The Gone, #3 This World We Live In) nya Susan Beth Pfeffer yang di rekomen oleh, the one and only Ka Adrin hahaha.